Semua definisi tentang tarbiyah ini mungkin akan menjadi lebih pas jika ada studi khusus tentang pengasuhan dalam studi atau perkuliahan di Indonesia. Saat ini, tarbiyah lebih banyak dikaitkan dengan pendidikan, yang goal-nya menjadi guru, bukan orang tua; di sekolah, bukan di keluarga.
Jadi, mungkin akan lebih cocok jika keluarga ditempatkan sebagai sebuah study. Di dalamnya bisa ada ilmu ekonomi, yang lahir dari proses pengaturan keluarga; ilmu psikologi perkembangan, jika melihat dari proses perkembangan dan perubahan jiwa setiap individunya; serta ilmu pengasuhan, jika terkait dengan interaksi, sosialisasi, dan hubungan antaranggota keluarga, khususnya antara orang tua dan anak.
Jadi, ilmu pengasuhan ini seharusnya bisa dikonseptualisasikan sendiri menjadi sebuah ilmu baru, bukan sekadar belajar studi keluarganya. Keluarga sebagai studinya, pengasuhan sebagai ilmunya. Kita ingin menempatkan pengasuhan sebagai ilmu, dan menempatkan keluarga sebagai kajian atau study.
Konsepnya itu, diasuh dulu melalui praktik pengasuhan, tarbiyah, atau parenting, baru kemudian dididik melalui praktik pendidikan atau ta’dib.
Ada perbedaan antara anak yang terasuh dan anak yang terdidik. Anak yang terasuh adalah anak yang sudah bisa membantu orang tuanya, mandiri, berakhlak mulia, dan dewasa. Sementara anak yang terdidik adalah anak yang mendapatkan ilmu.

Ada anak yang terasuh, tetapi tidak terdidik. Dia berakhlak mulia, tetapi mungkin tidak duduk secara khusus untuk mendapatkan ilmu. Sementara ada juga anak yang terdidik, tetapi tidak terasuh. Dia kuliah S1, S2, sampai S3, tetapi tidak mandiri. Jika berilmu atau terdidik, artinya proses kuliahnya benar, ada gurunya, dan ada ilmu yang dipelajari.
Ada kesalahan paradigma terkait konsep pengasuhan ini, yaitu ketika tarbiyah atau pengasuhan dianggap murni sebagai kurikulum sekolah. Padahal, di sekolah seharusnya urusannya adalah pendidikan. Pengasuhan itu urusan di rumah dan di dalam keluarga.
Pengasuhan di sini kita tetapkan sebagai terjemahan dari istilah tarbiyah, dan secara operasional disebut parenting. Maknanya adalah mengatur, mengadakan atau melahirkan, menjaga, merawat, dan mengurus. Ada gagasan kepemilikan di dalamnya. Pengasuhan juga berarti menumbuhkembangkan dan berorientasi pada pertumbuhan fisik, terkait gizi, tubuh, penyediaan makanan, tempat tinggal, dan sebagainya.
Jadi, parenting, pengasuhan, atau tarbiyah ini adalah tugas orang tua, bukan sekolah atau guru. Pengasuhan mencakup tugas untuk mengatur, menjaga, merawat, dan mengurus; menumbuhkembangkan serta berorientasi pada kebutuhan fisik; menyediakan tempat dan makanan; serta memastikan semuanya baik-baik saja dan anak dalam keadaan sehat. Ini tugas ORANG TUA.
- Asah berkaitan dengan pelatihan, mengasah keterampilan, dan mengasah kecerdasan dalam kehidupan sehari-hari.
- Asih berkaitan dengan aspek emosional, perlindungan, psikologis, serta cinta dan kasih sayang.
- Asuh berkaitan dengan penyediaan makanan, sandang, pangan, dan papan.
Pengasuhan pada manusia harus mencakup tiga hal di atas, PLUS ada proses pendidikan yang dilakukan pada manusia. Jika hanya terbatas pada pengasuhan tanpa pendidikan dan ilmu, maka posisinya setara dengan hewan. Makanya, jika ada orang yang bahkan tidak menjalankan tugas naluriahnya, seperti menyediakan makanan dan melatih anaknya dengan baik, maka dia lebih buruk dari binatang.
Kalau manusia mau menjadi lebih unggul dari hewan, bahkan lebih unggul dari malaikat, maka harus dengan pendidikan dan dengan ilmu. Itulah yang ada dalam proses pendidikan.
Di zaman ini, semakin berat bagi orang tua bahkan untuk “sekadar” menjalankan peran pengasuhan, belum masuk ke pendidikannya. Makanya, kalau ada yang bertanya, “Kurikulum homeschooling-nya apa?” Wah, itu bingung juga. Karena “kurikulum” pengasuhan saja sebenarnya sudah begitu berat.
Jadi, kalau memang kita tidak pernah kuliah S1, S2, atau S3, maka sesungguhnya kita tidak berkepentingan untuk mengajari sesuatu, dalam arti ilmu, kepada anak kita. Yang penting, JAGA FITRAHNYA. Bahkan, kewajiban kita bukan mengajar, tetapi justru BELAJAR lagi.
Sebenarnya, waktu untuk kita belajar sendiri sebagai seorang person, dan waktu untuk mengasuh anak-anak, itu sudah cukup berat. Bahkan, sampai seolah memang tidak ada waktu lagi untuk mengajar anak.
Nah, kalau kita sudah punya ilmu, boleh jadi anak kita menjadi murid kita. Atau bahkan dalam konteks lain, kita bisa menjadi murid dari anak kita, tentu dalam konteks keilmuan.
Ada ayat pengukuhan tentang tugas orang tua dalam mengasuh anak, yaitu Surat At-Tahrim. Sayangnya, ayat ini sering digunakan dalam konteks pendidikan. Padahal, seharusnya lebih kepada konteks pengasuhan: menjaga diri dan keluargamu.
- Tujuh tahun pertama: bermain bersama anak, mengenal anak dan saling berinteraksi bersama anak, membangun bonding, mengenal emosi, dan membangun ikatan batin.
- Tujuh tahun kedua: mengasah keterampilan anak, mengenalkan anak dengan banyak hal, termasuk mengenalkannya dengan agama, seperti diperintahkan untuk salat. Pada tahap ini, anak juga dipersiapkan menjelang balig, diperjelas jenis kelaminnya, serta mulai diperkenalkan dengan konsekuensi dan tanggung jawab.
- Tujuh tahun ketiga: …..
Perbedaan lain antara pengasuhan dan pendidikan adalah, dalam pengasuhan kita memakai diksi “memerintah” anak, bukan “mengajari” anak. Contohnya, pada usia tujuh tahun, orang tua memerintah anak untuk salat, bukan mengajari anak salat. Mengajari tentu boleh, asalkan dalam konteks pengasuhan, bukan dalam konteks keilmuan.
Mengasuh itu mempersiapkan lahan. Mendidik itu menanamnya. Jadi, kita melakukan tarbiyah kepada anak untuk mempersiapkan lahannya supaya siap ditanam. Setelah itu, diberikan ilmu agar dia tumbuh subur dengan lahan yang bagus dan ilmu yang baik.
💡 Saya rasa, dengan homeschooling kita bisa lebih memfokuskan diri pada MEMPERSIAPKAN anak untuk nanti menerima ilmu dan menjalani proses pendidikan. Bukan untuk mencecoki anak dengan banyaknya ilmu.
Di dalam pengasuhan, perintah-perintah baik untuk anak-anak dilakukan berdasarkan tradisi agama. Ibaratnya, kita mewariskan agama kepada anak-anak. Jika kita punya ilmu, berikan ilmunya. Jika kita tidak punya ilmunya, maka ya kita perintah saja anak kita untuk melakukan hal tersebut.
Di Mauritania, misalnya, ada tradisi anak menghafal Al-Qur’an sejak kecil. Jadi, mereka “ikut-ikutan” saja dengan kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang di sekeliling mereka. Sebagaimana anak-anak sekarang, tanpa sengaja dihafalkan pun lagu-lagu viral sudah bisa mereka hafal.
Apakah program menghafal sejak kecil berdampak pada anak? Ada yang berpendapat bahwa hal itu berdampak karena yang dimasukkan adalah ayat-ayat Al-Qur’an. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa ayat-ayat itu hanya masuk sebagai informasi saja, bukan sebagai ilmu yang bisa mengubah seseorang kepada kebaikan.
Maka, dalam proses ta’dib atau pendidikan, ilmu yang dipelajari harus bisa mengubah dirinya.
Sebagai orang tua, jangan terlalu fokus atau menggegas anak pada sesuatu yang terkait dengan keilmuan. Tugas orang tua adalah: kalau anak mau belajar, kita belikan buku, kita ajak melihat majelis ilmu, kita kuliahkan, kita kursuskan, atau kita daftarkan dia ke klub ilmu maupun hobi. Kita berusaha memenuhi kemauan dan kebutuhan anak tersebut.
Berbagai kebutuhan anak biasanya dilihat oleh orang tua berdasarkan pengalaman orang tua di masa lalu. Jadi, kita perlu memberikan juga apa yang sekiranya dibutuhkan oleh anak, sesuai usia dan kemampuan anak.
Kita sebagai orang tua harus banyak ngerem, jangan berbangga diri. Pastikan kehidupan kita dan kehidupan anak itu balance, bukan hanya fokus pada satu hal saja. Jangan sampai fitrah belajarnya terluka. Misalnya, anak sudah bisa hafal di usia muda. Jangan langsung digegas untuk lanjut ke hadis, lanjut ke sanad, dan lain-lain. Rem dulu. Lihat yang lainnya juga. Belajar serius itu mulai ketika baligh: duduk di majelis, memperbaiki bacaan, duduk di majelis sirah, mempelajari akidah, dan mengikuti kajian tafsir.
.png)
.png)



Posting Komentar